Rabu, 27 Februari 2008

MEET JARED

Sore itu kami berlima,- Agus, Risa, Priska, Vero, dan aku, mengunjungi Wisma Bahasa dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah ‘Pengantar BIPA’. Pak Agung, dosen Pengantar BIPA, menugasi kami untuk mewawancarai salah seorang murid asing yang sedang belajar bahasa Indoenesia di lembaga bahasa tersebut.

Sepuluh menit sebelum jadwal wawancara yang telah ditentukan yakni pukul 3 sore, kami tiba di ‘gedung’ Wisma Bahasa yang asri dan ‘hommy’ itu. Begitu memarkirkan motor, Pak Agung menyambut kami di teras depan. Saat itu cuaca cukup panas sehingga kami memutuskan untuk ‘ngisis’ di halaman parkir di bawah rindangnya pepohonan yang tumbuh di situ.

Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang bule jangkung berkemeja putih dan bercelana pendek warna khaki. Kecuali Agus, kami saling berbisik saat melihat si bule memasuki gedung hijau yang mungil itu., “ Wah moga-moga aja tuh bule yang bakal kita wawancarai, pasti asyik!”. Harapan kami terkabul. Begitu bule itu memasuki ruang tengah dan duduk di salah satu kursi coklat antik yang ada di situ, Pak Agung menyuruh kami untuk segera memulai wawancara kami. Lalu, setelah saling bersalaman dan berkenalan,kami pun memulai ‘misi’ kami.

Jared,-demikianlah laki-laki kelahiran Australia Barat, 16 Januari 1976 itu biasa dipanggil. Perawakannya seperti bule-bule pada umumnya: jangkung dengan rambut kecoklatan dan tentu saja kulit putih. Awalnya, kami sempat ragu untuk memulai wawancara kami karena kami mengira Jared akan sedingin dan sekaku bule-bule dalam film-film Hollywood. Namun ternyata, kekhawatiran kami menguap begitu Jared mengembangkan senyum ramahnya dan sangat ‘welcome’ menyambut kedatangan kami.

Meskipun baru 2 minggu belajar bahasa Indonesia, kemampuan Jared dalam berkomunikasi menggunakan bahasa barunya itu bisa dikatakan lebih baik daripada kemampuan berbahasa Inggris kami yang yang telah kami pelajari selama lebih dari 6 tahun ini. keseriusannya untuk belajar bahasa Indonesia dibuktikannya dengan ketekunannya mengikuti kursus yang tiap harinya memakan waktu hingga 6 jam.

Saat wawancara berlangsung, Jared sering mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa mendengar percakapan kami lebih jelas. “Saya masih sering kesulitan dalam mendengarkan percakapan berbahasa Indonesia. Pernah suatu hari saya mencoba menonton acaranya Tukul Arwana, namun saya tak dapat menangkap kata-katanya,” ujarnya saat kami menanyakan kesulitan-kesulitannya dalam mempelajari bahasa Indonesia. Ketika ditanya lebih jauh mengenai kesulitan-kesulitannya itu, dia mengatakan, “ Saya masih bingung dalam menggunakan struktur bahasa Indonesia. Karena tidak seperti dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia tidak memiliki tenses.” Hal lain yang membingungkannya adalah perbedaan kata sapaan ‘Kau’, ‘Kamu’, dan ‘Anda’ serta ‘Aku’ dan ‘Saya’. “Dalam bahasa Inggris, kami hanya menggunakan kata ‘I’ dan ‘You’,” jelasnya saat kami emmanggilnya dengan sapaan ‘Anda’.

Saat kami mencoba mencari tahu gaya belajar yang disukainya, dia mengatakan bahwa dia lebih menyukai mempraktekkan bahasa Indonesia secara langsung, baik dengan berbicara maupun dengan mendengarkan. “Kadang-kadang,” ujarnya, “saya juga membaca koran dan menonton berita TV berbahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia saya.

Selama di Jogja, Jared yang waktu dekat akan bekerja di Kedutaan Besar Australia di Jakarta ini, tinggal di Hotel Jogja Plaza. Untuk alasan pekerjaan itulah, laki-laki yang mulai menyukai makanan Indonesia ini mengambil kursus Bahasa Indonesia.. Jared mengaku, ini bukanlah yang pertama kalinya dia datang ke Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, dia pernah berkunjung ke Bali selama 2 minggu dalam rangka liburan.

Ada banyak hal lain yang kami utarakan pada Jared seperti: bagaimana rasanya memiliki perdana menteri baru (PM Kevin Ruud); sedang musim apa di Australia Barat saat ini, sampai pendapat Jared mengenai orang-orang Indonesia, khususnya Jogja. Untuk yang terakhir, Jared bilang bahwa orang-orang Indonesia sangat ramah. Saking ramahnya, dia sampai khawatir jika dia tidak bisa berbuat hal yang sama pada mereka. “ Saya sangat senang juika bis berinteraksi langsung dengan orang Indonesia. Namun, saya takut jika mereka menganggap saya tidak sopan ataupun tidak ramah,” akunya.

Sepanjang wawancara berlangsung, kami tidak melulu memonopoli pertanyaan. Beberapa kali Jared mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada kami seperti dari mana asal kami; bagaimana budayanya; sampai pada pertanyaan berbau politis yakni pendapat orang Indonesia mengenai hubungan Indonesia dengan Australia yang seringkali mengalami pasang surut. Kami menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi kesalahpahaman ataupun kesan yang negatif baik mengenai negaranya maupun negara kita sendiri.

Meskipun agak terlambat, kami menanyainya bahasa apa saja yang dikuasainya selain bahasa Inggris. Jawabnya, “ Saya lahir di Australia. Kedua orang tua saya orang Australia sehingga saya pun tidak berkomunikasi dengan bahasa apapun selain bahasa Inggris.” Lalu dia menambahkan, “Di Australia, bahasa Indonesia cukup populer disamping 2 bahasa asing lainnya yakni bahasa Jepang dan bahasa Mandarin.”

Jarum jam telah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Tiga puluh menit waktu yang diberikan Pak Agung telah berakhir. Tibalah saatnya bagi kami untuk berpamitan. Meskipun Pak Agung pernah mengatakan bahwa orang-orang asing tidak terbiasa bersalaman saat mereka akan berpisah, kmai tetap saja menyalaminya, karena begitulah kebiasaaan kami,- orang Indonesia. Sebelum pergi, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Demikian jangkungnya Jared sehingga kami berlima yang hanya setinggi dadanya, nampak seperti ‘kurcaci’ yang mengelilingi ‘Goliath’.

Pengalaman bertemu dan berbicara langsung dengan Jared cukup mengesankan bagi kami. Melalui pertukaran informasi dengannya, wawasan kami mengenai budaya maupun kehidupan orang-orang asing, khususnya Australia, semakin bertambah. Hal penting yang cukup mempengaruhi kami adalah ketekuanan dan kedisiplinan orang-orang asing, baik dalam belajar maupun bekerja. Itu membuat kami berpikir betapa Indonesia juga akan menjadi negara adidaya yang disegani dan dihormati dunia jika saja rakyatnya (termasuk kami juga) tidak ‘aras-arasen’ dalam menghadapi kemajuanm jaman dan tentu saja menghindari budaya KKN yang ironisnya justru tumbuh subur di negeri ini.

1 komentar:

joshua mengatakan...

Let me tell you that this is one of the very best blogs I've ever visited!

Congrats!

PALAVROSSAVRVS REX