Senin, 10 Maret 2008

anonim

Seharian tadi, tak satupun tulisan kubuat. Padahal aku punya banyak waktu luang untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kulakukan. Entahlah, aku tak tau apa yang ada di kepalaku. Pikiranku serasa enggan bergerak, hanya jalan di tempat : tak melakukan apa-apa, tak menghasilkan apa-apa. Ide-ide yang bermunculan sejak kemarin dan kemarin dulu ( dan yang dulunya lagi) bertebaran di ruang waktu yang semakin bergegas ini. Ku tak bisa memastikan sampai kapan nasib 1001 ideku itu terus muncul, melayang dan akhirnya menghilang di telan keenggananku. Satu-satunya cara untuk menangkap mereka adalah dengan memindahkannya ke dalam materi, entah itu berupa tulisan maupun dalam bentuk lain yang maish bisa diterima rasio. Dan akhirnya, itulah yang coba kulakukan malam ini.

Yang pertama kali ingin kutulis adalah tentang diriku sendiri. Beberapa tahun terakhir, aku memang menggeluti dunia diri sendiriku lebih mendalam lagi. Bagiku, mengenal diri sendiri adalah lebih penting daripada menilai orang lain. Dengan bercermin pada diri sendiri, aku bisa tahu dimana letak kesalahan dan kelemahanku. Semakin sering ku bercermin, semakin nampak jelas noda-noda hitam yang bertebaran di setiap sudut hatiku.

Adalah seorang Sokrates yang mengenalkanku pada dunia diriku sendiri. Melalui bukunya yang ku baca entah berapa tahun yang lalu, aku mengenal filsafatnya yang sangat terkenal itu : Gnothi Seauton ; kenalilah dirimu sendiri”. Betapa pentingnya mengenali diri kita sendiri karena hal itu akan sangat membantu kita dalam mengenali lingkungan kita.

Dulu aku adalah gadis biasa yang sangat biasa. Yang kulihat saat itu adalah bahwa aku tak berharga; aku terlalu rendah diri; aku terlalu kurang dalam segalanya, dan yang lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku sadar jika aku tak mengubah pola pikirku yang sangat konvensional itu, aku tak kan pernah bisa maju.

Dibantu oleh beberapa aliran filsafat dari buku-buku yang kubaca, ditambah dengan pengalaman terjun langsung ke dalam sungai air mata penderitaan, aku kini semakin mengerti apa yang sebenarnya kumau, seperti apakah diriku. Intinya, aku menerima apa adanya diriku. Dulu mungkin aku sering bertanya : “ Apa yang bisa kulakukan?”. Namun sekarang aku berani untuk mengatakan bahwa aku tak tahu apa yang tak bisa kulakukan. Ini tidak berarti aku bisa melakukan segala hal. Hanya saja aku selalu akan mencari cara bagaimana memecahkan segala persoalan. Nothing is impossible, iya kan?!

Tidak ada komentar: