Rabu, 02 April 2008

jalanjalan ke Beton

Ini bukan bacaan yang baik dan benar.

Saptu, 80308

Kemarin aku pergi ke Beton, Ponjong, salah satu pedalaman di Gunungkidul Handayani yang terkenal kaya akan daerah pedalamannya. Aku pergi kesana tak sendiri; bareng-bareng sama dewan ‘kape emde’. Buat apa? Biasalah… rapat sekalian makan-makan; makan iwak bakar, makan ati, makan waktu, makan duit (yang jelas bukan duitku!).

Perlukah aku bilang padamu kalo aku jadi anggota dewan ‘kape emde’ (baca: Komite Pendidikan Masyarakat Desa)? Kayaknya gak perlu deh. Toh kamu juga gak mau tau kan?!

Tahukah kamu kalo Beton itu adalah sebuah daerah perairan yang diapit bukit-bukit kapur nan tandus? Pasti baru tahu sekarang kan! Let met tell you seperti apa itu Beton menurut point of view-ku.

Beton bukanlah biji nangka favoritmu. Beton juga tak ada hubungannya sama bangunan beton atawa baja beton apalagi mbok Beton (mang ada?). Beton juga bukan sejenis jerawat yang banyak beton-jolan di mukaku. Beton yang kumaksud adalah sebuah danau yang mana daripadanya mengalir ‘tuk’ alias mata air yang olwez memancar dari perut bumi. Konon, mata air itu baru muncul ke muka bumi tahun 2004 silam. Fenomena alam katanya. Dan katanya juga, danau yang punya kedaleman 3 – 6 meter itu dulunya adalah tempat daripada orang-orang membangun rumah. Sekarang rumah-rumah itu tenggelam, bahkan pohon kelapanya pun cuma kliatan pucuknya saja. Bahkan lagi, jembatan yang pas musim kemarau lalu masih menggantung di tengah danau, kini tak kliatan batang hidungnya: tenggelam. Hiiiiii …….. jadi inget Lumpur Panas Lapindo.

Haruskah kukatakan padamu bahwa jembatan yang ‘nyungsep’ itu adalah jalan terpintas menuju Goa Lowo? Kayaknya harus deh, soalnya siapa tahu aja kalo kamu mau ‘topo’ ke gua yang penuh kelelawar itu kamu bisa lebih ngirit bensin. Itu kalo jembatannya udah kliatan batang sama hidungnya, kalo tuh jembatan gak muncul lagi, yah terpaksa kamu nyebur, lumayanlah sambil menyelam minum air (tapi airnya keruh bro!).

Haruskah kukatakan padamu kalo aku ngeri banget ngeliat pemandangan danau itu? Kayaknya gak perlu deh soalnya aku malu sama kamu kao kamu tau aku menolak mentah-mentah ajakan temenku untuk naik ‘bebek-bebekan’ muterin danau becoz aku phobi sama air yang diam en dalem. Jangankan naik ‘bebek-bebekan’, mantengin air en ngedengerin gemuruh ‘tuk’ dari kejauhan aja udah mbikin merinding.

Jangan membuatku mengatakan kalo pemandangan di danau itu jauh dari mengasyikkan. Bukit-bukit batu karst dengan ceruk-ceruknya yang gelap mengurung danau itu sehingga membuatnya nampak angker.

Oh ya, kau pasti tidak tahu kalo di balik bukit yang paling gedhe di sebelah kiri ‘tuk’ ada goanya. Goa Lawa namanya. Eh… tadi udah tak sebutin ya?!

Alkisah pas kami lagi makan ikan bakar yang nikmat en maknyuss di pendopo di pinggir danau, terlihat olehku kawanan wanita, eh maksudku wanita berkawan, yang tengah menuruni jalan sempit lagi terjal dari arah balik bukit paling gedhe. Terlihat pula olehku seikat rumput pakan ternak tergendong di punggung kedua wanita setengah baya itu. Lalu….aku terkesiap saat melihat mereka menyeberangi jembatan yang gak bisa lagi dibedain sama danaunya karena yang kliatan cuman air doank. Dilepasnya sandal mereka. Dicincingkannya rok sampai paha atas mereka…..lalu……selangkah……dua langkah…….mereka menyeberangi jembatan di tengah danau itu dengan mantap seolah sudah hapal betul jalur jembatan itu. Pas mereka tiba persis di tengah-tengah, aku hampir berhenti bernapas karena ternyata airnya lebih dalam dari yang mereka kira. Kupikir mereka akan tenggelam. Alhasil, rok yang tadinya mereka cincingkan basah oleh air yang mencapai perut mereka. Toh mereka akhirnya selamat. Ya….iyalah… wong ternyata itu udah rutinitas mereka saban harinya

Haruskah kukatakan padamu wahai pembacaku yang pakdiman kalo aku phobi benar sama danau yang tenang lagi keruh airnya? Mungkin kamu musti tahu, biar kamu gak ngajak aku naik ‘bebek-bebekan’.

Haruskah kukatakan padamu aku harus berhenti nulis sekarang aku musti ngisi perutku yang keroncongan? Serius, aku mau ke angkringan beli nasi kucing yang mak nyuss itu ( maklum lagi tanggal tua men!)

Tidak ada komentar: