Jumat, 22 Februari 2008

Pengakuan Seorang Plagiat

Dalam hidup, tak satupun dari kita yang tak pernah melakukan kesalahan। Mungkin kisahku in merupakan kesalahan yang juga pernah kalian alami. Sungguh, aku tak mampu memejamkan mataku dengan tenang sebelum aku mengungkapkan kekhilafanaku yang sangat memalukan ini. Anggap saja tulisan ini sebagai ‘pengakuan dosaku’. Malam itu, Senin 3 Desember, aku dilanda kepanikan yang luar biasa. Bagaimana tidak, tugas membuat puisi untuk mata kuliah Pengkajian Apresiasi Drama yang harus dikumpulkan keesokan harinya belum kusentuh sama sekali. Meskipun berbagai cara telah kutempuh, tak satupun ide yang terlintas di benakku. Kertas-kertas yang berserakan di kamarku menjadi saksi bisu ketumpulan imajinasiku. Sementara itu, malam semakin merapatkan kerudungnya dan aku belum juga menemukan kata-kata yang pas untuk menyusun puisiku. Jika saja pikiranku tidak terpecah, mungkin aku akan lebih mudah memusatkan perhatianku pada tugasku itu. Adalah Ariana, seorang cewek aneh dan sok idealis di kelasku, yang membuat Seninku berantakan. Siang itu saat dikampus, aku dan temanku,-Kale, berselih dengan gadis tirus berambut panjang itu. Masalahnya sepele (begitu menurutku), namun ternyata menyulut kemarahan cewek aneh itu. Tidak biasanya Ariana marah saat kami mengatainya ”cewek aneh”. Namun, tanpa disangka, dia mendatangi kami setelah jam mata kuliah Menulis berakhir. Aku tak menyangka bahwa tulisan Kale tentang ’gadis teraneh’ menyinggung perasaannya. Memang sih dalam tulisan yang dibacakan di depan kelas siang tadi itu, Kale menyebutkan bahwa Aia, tokoh utama dalam cerpennya, digambarkan sebagai sosok yang munafik dan egois dengan ciri-ciri fisik yang tak jauh beda dengan Ariana. Pemberian nama Aia pun juga sedikit banyak hampir mirip dengan nama Ariana. Pantaslah kalau Ariana tidak bisa menerima stereotip negatif mengenai dirinya, apalagi setelah seluruh kelas mengamini cerpen Kale yang dianggap mewakili kenyataan yang sebenarnya tentang adanya gadis aneh di kelas mereka, yakni dirinya sendiri. ”Aku tahu apa yang kau tulis itu tentang aku. Kuakui kau memang berbakat dalam berimajinasi. Kau akan lebih terhormat jika saja kau bisa membedakan mana fakta dan mana fiksi!,” ujarnya dingin. Kale yang seumur-umur belum pernah di damprat seorang gaids kecuali ibunya sendiri naik pitam. ”Tapi fakta membuktikan kalau kau memang anehkan? Semua teman bilang begitu. Jadi maaf saja kalau kau tersinggung dengan cerpenku,” tukasnya sengit. ” Dari sisi mana kau menilaiku? Kau bahkan sama sekali tidak mengenalku.,” balas Ariana mencoba untuk tetap tenang. ” Kalian menganggapku aneh karena dalam beberapa hal aku berbeda dengan kalian. Aku tidak memakai pakaian warna-warni atau yang sedang tren; aku tidak pernah nongkrong bareng dengan kalian; aku terlalu pendiam untuk bergosip tentang sesuatu yang tak pernah kuketahui. ” ” Jangan sok idealislah!, tukasku. ” Kami tidak mungkin melakukan seperti apa yang kamu lakukan” belakangan, aku menyesal telah mengucapkan kata-kata itu. ”Dengar, sedikitpun aku tak pernah berharap kalian mengikuti jalanku. Aku punya jalan sendiri dan aku tak mempermasalahkannya meskipun jalan kita tak sama. Tak bisakah kalian menghormati itu?,” ujarnya. Kale hendak membalas kata-katanya, namun sebelum ia membuka mulutnya, Ariana memotong. ” Oya, lain kali kalau meau ulis sesuatu, pikirin dulu masak-masak. Jangan sampai ngorbanin perasaan orang lain,” ujarnya dingin sebelum berlalu pergi. ” Dasar cewek rese!,” umpat kami berdua. Sebenarnya, apa yang dikatakan Ariana tidaklah salah. Aku memang belum mengenalnya lebih jauh. Selain karena sikapnya yang tidak banyak bicara, stigma teman-teman kelas kami terhadapnya menyurutkan niatku untuk bergaul dengannya. Jangankan ngobrol, menyapanya saja jarang kami lakukan. Kembali ke masalah puisiku. Jarum jam telah menunjukkan 50 menit kurangnya dari jam 12 malam. Sisa waktu deadline tugasku tinggal beberapa jam lagi namun tak satupun bait yang berhasil kurangkai. Keputusasaan mendorongku untuk mencari inpirasi dari buku-buku ibuku semasa kuliahnya dulu. Sebuah buku tak seberapa tebal dengan sampul birunya yang memudar termakan usia menarik perhatianku. Didalamnya terdapat cukup banyak puisi-puisi saduran dari berbagai negara. Sebuah ide muncul di benakku. ” Daripada susah-susah mbuat, mendingan aku njiplak saja salah satu puisi di buku ini,” batinku. Pikirku, tak akan ada seorang pun yang pernah membaca buku biru tua itu, apalgi puisi-puisi di dalamnya. Akhirnya, pilihanku jatuh pada satu puisi buah karya Tagore. Aku sangat yakin bahwa , seperti halnya aku, teman-temanku tak mengenal siapa Tagore itu. Keesokan harinya, mulailah kami membacakan puisi kami di depan kelas. Saat tiba giliranku, sambutan teman-teman dan dosenku sempat melambungkanku sejenak. ” Antonio Dega Supantoro,” ujar dosenku. ”Puisimu benar-benar indah dan sarat makna, ” pujinya melanjutkan. Saat bertemu pandang dengan Ariana, reaksinya begitu berbeda dengan teman-temanku sekelas yang menyanjung dan memberi respon positif atas ’hasil karyaku’. Tatapannya sangat dingin dan menusuk. ”Dia pasti iri,” batinku. Hal itu justru semakin menguatkan keyakinanku akan keanehan dan kesok-kannya itu. Pada jam jeda meata kuliah berikutnya, kami berpapasan di tangga dekat sekretariat prodi kami. Tak ada seorangpun disekitar kami. ” Ga, ternyata kita sama-sama penggemar Tagore ya!,” sindirnya sambil tersenyum sinis. Deg! Kata-katanya bagaikan tamparan keras di wajahku. Melihatku salah tingkah, dia melanjutkan, ”Jangan khawatir, banyak karya kreatif yang lahirdari penjiplakan karya-karya yang lebih dulu ada. Lewat proses pemahaman dan pengembangan yang terus-menerus, maka akan tercipta karya yang benar-benar baru. Kuharap kau akan menjadi salah satunya yang menciptakan karya baru itu.” Sebelum melihat merah wajahku semakin memerah lagi, dia sudah berbalik pergi sambil menenteng buku biru lusuhnya. ”Oh.... kenapa aku sampai tidak mempertimbangkan gadis itu,:” batinku marah pada diriku sendiri.” Tentu saja Ariana tahu sastrawan-sastrawan dunia dan karya-karya mereka karena ia tak pernah lepas dari buku-buku sastranya, termasuk buku biru lusuhnya yang seperti punyaku itu. Sejak kejadian itu, aku tak mau lagi menjual harga diriku dengan menjiplak karya orang lain. Seburuk apapun tulisan-tulisanku, aku tetap akan mengakuinya sebagai hasil karyaku. Untuk temanku, Ariana, jika kau membaca tulisan ini, betapa aku menyesal telah salah menilaimu. Kau menyadarkanku tentang pentingnya arti sebuah idealisme. Idealisme akan menahan kita untuk tidak larut dalam pusaran ketidaktahuan yang menyesatkan. Tulisan pengakuanku ini lahir dari perenungan akan penyesalanku yang mendalam dari lubuk hatiku. Kuharap kau tahu karyaku ini bukan jiplakan seperti seperti karya-karyaku terdahulu.

0 komentar: