Dalai Lama, Pembawa Obor Perdamaian Dari Tibet
“Karena kita semua berbagi di bumi yang kecil ini. kita harus saling belajar untuk hidup dengan harmonis dan damai satu sama lain, termasuk dengan alam.”
(Pidato Dalai Lama saat penyerahan penghargaan Nobelnya pada 11 Desember 1989).
Dalai Lama. Siapa tak kenal tokoh satu ini? Namanya kerap menghiasi headline berbagai media massa di seluruh dunia, terlebih dalam sebulan terakhir ini. Perjuangan tanpa kekerasannya telah mengantarnya meraih penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1989. bahkan, ia disebut-sebut sebagai penerus Mahatma Gandhi, salah satu tokoh perdamaian terbesar abad ini.
Terlahir sebagai Lhamo Thondup pada 6 Juni 1935, anak ke-9 dari keluarga petani ini diidentifikasikan sebagai pewaris Dalai Lama ke-13 saat usianya baru 2 tahun. Dalai Lama berarti “semua yang menyangkut Lama”, yaitu seseorang yang dianggap sebagai reinkarnasi arwah leluhur serta perwujudan Avalokiteshvara, gabungan dari seluruh kasih sayang Sang Budha. Saat usianya menginjak 15 tahun, ia secara resmi dinobatkan sebagai perwujudan ke-14 Dalai Lama. Sebagai Dalai Lama, ia menjadi pemimpin spiritual umat Budha di Tibet serta pemimpin monarki Tibet.
Penobatan tersebut dilakukan karena situasi keamanan di Tibet yang semakin memburuk. Saat itu, 7 Oktober 1950, Cina menginvasi dan menguasai Tibet sehingga mengancam kemerdekaan negeri ‘atap dunia’ itu. Pendudukan tersebut memicu berbagai perlawanan baik dari 6 juta rakyat Tibet sendiri maupun dari pasukan pendukung Amerika Serikat. Dalai Lama tidak menyetujui perjuangan dengan kekerasan yang dilakukan rakyatnya dan para pendukungnya. Alasannya, kekerasan hanya akan melahirkan semakin banyak kekerasan dan penderitaan.
Pada tahun 1959, karena alasan keselamatannya, Dalai Lama beserta 80.000 pengikutnya mengungsi ke Dharamsala, di kaki Gunung Himalaya, India Utara. Di tempat itulah dia mendirikan markas dan membentuk pemerintahan pengungsian Tibet hingga sekarang.
Sementara itu, pada waktu yang sama saat dia meninggalkan negerinya, Cina semakin kuat menancapkan kekuasaannya di seluruh Tibet. Situasi di Tibet semakin memburuk saat pada tahun 1966, Mao Zedong mengumumkan ”Revolusi Besar Budaya Proletar”, sebuah dekade panjang bencana politik dimana kehormatan tradisional diabaikan, artefak budaya dihancurkan dan dimusnahkan, ekspresi budaya dibatasi, dan praktik keagamaan ditekan. Bahkan, China seringkali menghukum mati mereka yang menolak mengakui kedaulatan China atas Tibet ataupun pengakuan kesetiaan mereka pada Dalai Lama. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia oleh China telah menjadi hal yang biasa terjadi di Tibet.
Di tempat pengungsiannya, Dalai Lama tidak tinggal diam melihat China melakukan genosida budaya negerinya. Perjuangannya mencari kebebasan untuk Tibet tidak pernah surut. Dia berkeliling dunia menemui para tokoh-tokoh besar dunia untuk mencari dukungan atas kemerdekaan negerinya. Prinsip yang selalu dia pegang teguh adalah berusaha mencegah kekerasan dalam perjuangan rakyatnya meraih kemerdekaan. Dalai yang memiliki nama lain Tenzin Gyatsi ini, terus berupaya menjalin perundingan dengan China untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Selama bertahun-tahun, Dalai Lama dan rakyatnya tak pernah lelah dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka. Puncaknya terjadi saat peringatan 49 tahun pemberontakan Tibet terhadap pemerintah komunis China yang gagal dan menyebabkan Dalai Lama mengungsi ke India sampai sekarang pada hari Jumat, 14 Maret 2008 lalu. Dalam demonstrasi yang dipimpin oleh para biksu itu, 100 orang diperkirakan tewas oleh tembakan ribuan tentara yang dikerahkan pemerintah China. Akibatnya, kerusuhan merebak di berbagai wilayah di Tibet atas aksi anarkis yang dilakukan tentara China itu.
China memang pantas merasa berang atas unjuk rasa yang memakan puluhan bahkan ratusan korban jiwa itu. Pasalnya, pada bulan Agustus nanti China akan menjadi tuan rumah Olympiade di Beijing sehingga kerusuhan di Tibet dikhawatirkan akan menggangggu pelaksanaan pesta olahraga sejagad itu. Bahkan, bukan hal yang tidak mungkin jika terjadi pemboikotan Olympiade oleh negara-negara penjujung hak asasi manusia.
Obor Olympiade yang melambangkan perdamaian memang belum lama ini di sulut. Namun obor perdamaian yang sesungguhnya telah menyala di Tibet jauh sebelumnya. Dalai Lama, sang pembawa obor perdamaian itu masih teguh pada prinsipnya untuk menghindari kekerasan dalam perjuangannya dan rakyatnya dalam mencapai kemerdekaan. Atas nama segala penindasan dan kekerasan, semoga obor perdamaian itu terus menyala dan mampu mempersatukan jurang pemisah baik antara Tibet dan China sendiri, maupun seluruh dunia.
Imagine there's no countries. It isn't hard to do
Nothing to kill or die for. And no religion too
Imagine all the people, living life in peace...
(Jhon Lennon, Imagine)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar